DENPASAR – Praktisi hukum terkemuka, Dr. Togar Situmorang, memberikan tanggapan keras terkait pernyataan mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Dalam sebuah video yang beredar, Tiyo menyebut bahwa pemilihan Soeharto, Joko Widodo, dan Prabowo Subianto sebagai presiden merupakan sebuah kesalahan fatal dan puncak kebodohan. Menurut Dr. Togar, pernyataan tersebut telah melampaui batas kritik yang wajar dan tidak lagi mencerminkan esensi dari idealisme mahasiswa.
Dr. Togar menilai ucapan mantan aktivis kampus itu bukan lagi sebuah bentuk kritik objektif, melainkan sebuah penipuan intelektual yang sengaja dibungkus dengan retorika dan ego pribadi. Ia sangat menyayangkan narasi keji tersebut justru keluar dari mulut seorang mantan Ketua BEM di ruang publik. Sebagai bagian dari kaum akademis dan aktivis, mahasiswa seharusnya menjadi teladan dalam etika berpikir dan menyampaikan pendapat, bukan sebaliknya.
Dalam potongan video yang memicu polemik tersebut, Tiyo melontarkan kalimat bahwa memilih pemimpin bodoh adalah kesalahan, namun membiarkan mereka terus berkuasa adalah puncak kebodohan. Ia juga menyertakan ajakan untuk menghentikan kepemimpinan Prabowo-Gibran. Menanggapi hal ini, Dr. Togar menegaskan bahwa konteks pernyataan tersebut sudah sangat parah karena telah masuk ke ranah hasutan yang provokatif, bukan lagi berupa koreksi atas sebuah kebijakan negara.
Lebih lanjut, Dr. Togar mengingatkan bahwa negara ini bukanlah panggung untuk memuaskan ego personal. Di dalam ruang diskusi publik, terlebih yang membawa-bawa forum akademis, kewajiban menjaga etika merupakan hal yang mutlak. Ia menekankan bahwa mahasiswa memiliki kodrat sebagai corong moral bangsa, sehingga sangat tidak pantas jika peran mulia tersebut bergeser menjadi corong kebencian.
Berbicara mengenai karakter mahasiswa yang beridealisme, Dr. Togar menggarisbawahi bahwa idealisme sejati tidak pernah diwujudkan dengan cara merendahkan martabat seorang pemimpin, melainkan dengan menawarkan solusi nyata. Mahasiswa yang idealis dinilai harus mampu berpikir kritis namun tetap konstruktif, yaitu mengoreksi kebijakan pemerintah berbasis data yang valid, bukan menghina personal dengan balutan emosi. Bagi Dr. Togar, Soeharto, Jokowi, dan Prabowo adalah sosok-sosok yang terpilih atas kehendak Tuhan untuk memimpin bangsa ini. Jika ada pihak yang tidak setuju, hal itu harus dilawan dengan gagasan dan karya nyata demi kesejahteraan masyarakat, bukan dengan narasi penjatuhan.
Di akhir penyataannya, praktisi hukum ini mendorong agar seluruh elemen mahasiswa dapat kembali ke jati diri mereka yang sesungguhnya. Mahasiswa diharapkan fokus pada aktivitas membaca, meneliti, dan memberikan alternatif solusi bagi permasalahan bangsa, alih-alih terjebak dalam panggung konflik politik praktis yang berpotensi memecah belah persatuan.