Kategori: Berita Seputar Indonesia

  • Panglima Hukum Togar Situmorang: Malu Dong Kalau Rektornya “Impor” tapi Kualitas Kampusnya Masih “Lokalan”

    Panglima Hukum Togar Situmorang: Malu Dong Kalau Rektornya “Impor” tapi Kualitas Kampusnya Masih “Lokalan”

    Foto: Pengamat kebijakan publik Dr. (c) Togar Situmorang, S.H., M.H., M.AP., yang juga advokat senior dengan julukan”Panglima Hukum.”

    Denpasar (Panglimahukum.com)-

    Wacana Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Prof Mohamad Nasir mewacanakan akan mengundang rektor asing untuk memimpin Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia dinilai suatu langkah yang progresif dan visioner.

    Pengamat kebijakan publik Dr. (c) Togar Situmorang, S.H., M.H., M.AP., mendukung penuh rencana ini. Advokat senior yang dijuluki “Panglima Hukum” ini menilai bahwa wacana tersebut sangat positif jika berorientasi pada peningkatan daya saing PTN di Indonesia.

    “Kalau rektor asing memimpin PTN, kami harapkan harus mampu membawa kampus Indonesia menjadi World Class  University (Universitas Kelas Dunia). Malu dong kalau rektornya impor tapi kualitas kampusnya masih lokalan,” katanya ditemui di kantornya Law Firm Togar Situmorang & Associates, Jalan Gatot Subroto Timur nomor 22 Denpasar, Jumat (2/8/2019).

    Seperti diketahui wacana rektor asing untuk memimpin PTN sudah disodorkan oleh Menristek Dikti kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menariknya, Presiden Jokowi kemungkinan akan melakukan uji coba dengan menghadirkan rektor dari luar negeri untuk menangani PTN.

    “Jika menggunakan rektor dari luar negeri, maka diharapkan Perguruan Tinggi kita memiliki daya saing yang lebih tinggi ke depan,” ujar Managing Partner Law Office Togar Situmorang & Associates yang beralamat di Jalan Tukad Citarum Nomor 5A Renon dan merupakan rekanan OTO 27 yaitu bisnis usaha yang bergerak di bidang Insurance AIA, property penjualan villa, showroom mobil, showroom motor, coffee shop yang beralamat di Jalan Gatot Subroto Timur Nomor 22 Denpasar ini.

    Bagi advokat yang juga sangat peduli kepada dunia pendidikan ini, upaya menghadirkan rektor asing tentu sudah dipertimbangkan secara matang oleh Kemenristek Dikti. Setidaknya, rektor asing nantinya tidak sebatas melakukan pembenahan kualitas pendidikan tinggi, namun juga pembenahan lainnya.

    Togar Situmorang bahkan menyebut, menghadirkan rektor asing sesungguhnya sudah banyak dipraktikkan oleh negara – negara lainnya. Hasilnya pun sungguh luar biasa.

    “Praktik menghadirkan rektor asing untuk memimpin Perguruan Tinggi Negeri atau Perguruan Tinggi Publik di suatu negara lumrah dilakukan, terutama di negara-negara Eropa.
    Bahkan, Singapura juga melakukan hal yang sama,” papar Togar Situmorang yang baru-baru ini menerima penghargaan Best Winners – Indonesia Business Development Award.

    Advokat yang juga Dewan Penasehat Forum Bela Negara Provinsi Bali ini bahkan mencontohkan Nanyang Technological University (NTU), yang baru didirikan pada 1981. Dalam waktu 38 tahun, NTU sudah masuk 50 besar universitas terbaik di dunia.

    “NTU itu berdiri tahun 1981. Dalam pengembangannya, ternyata mereka mengundang rektor dari Amerika dan dosen – dosen beberapa negara besar. Mereka dari berdiri belum dikenal, tetapi sekarang bisa masuk 50 besar dunia,” tutur Ketua Pengcab POSSI Kota Denpasar ini.

    Berkaca pada pengalaman NTU ini,  Togar yang masuk daftar 100 Advokat Hebat versi Majalah Property&Bank itu yakin bahwa Indonesia bisa melakukan hal serupa. Harapannya, dengan kehadiran rektor serta dosen luar negeri, suatu saat ranking perguruan tinggi di Indonesia akan meningkat tajam.

    “Kalau itu terjadi, maka rakyat Indonesia akan lebih dekat dengan pendidikan tinggi yang berkualitas dunia,” ucap advokat penerima penghargaan Indonesia 50 Best Lawyer Award 2019 ini.

    Selama ini, lanjut Togar, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang harus pergi ke luar negeri, termasuk NTU, hanya untuk mendapatkan pendidikan tinggi terbaik.

    “Karena rektor asing dan kolaborasinya yang ada di Singapura, NTU bisa mendatangkan mahasiswa dari Amerika, Eropa, bahkan Indonesia ke sana,” tandas pria yang sangat cinta Bali dan punya komitmen “Siap Melayani, Bukan Dilayani,” ini (phm).

  • Tatap Muka di Bali, Ngurah Aryawan Harapkan Presiden Jokowi Hentikan Reklamasi Teluk Benoa

    Denpasar (Panglimahukum.com)

    Masih ingat dengan surat resmi Gubernur Bali I Wayan Koster kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengubah Perpres No.51 Tahun 2014 dan mengembalikan kawasan Teluk Benoa sebagai Kawasan Konservasi Maritim?

    Tiga bulan sudah surat ini dikirimkan ke Presiden Jokowi namun hingga kini belum tampak ada tindak lanjut yang jelas atas permohonan Gubernur Bali tersebut. Padahal tegas Gubernur sudah menolak rencana reklamasi itu.

    Apakah surat Gubernur ini diperhatikan ataukah tidak, rakyat Bali tidak tahu. Rakyat Bali pun masih tetap merasa was-was karena rencana reklamasi Teluk Benoa tetap bisa bergulir sepanjang Perpres 51/2014 belum direvisi dan status kawasan konservasi Teluk Benoa belum dikembalikan

    Karenanya diharapkan ada pernyataan tegas dari Presiden Jokowi di hadapan rakyat Bali saat acara tatap muka dengan tokoh-tokoh masyarakat Bali pada Jumat,  22 Maret 2019 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar,

    “Apakah rencana reklamasi di Teluk Benoa bisa dihentikan atau malah tetap diberikan kesempatan, Presiden harus memberikan ketegasan. Termasuk memberi jawaban secara terbuka atas surat Gubernur Bali,” kata tokoh masyarakat Denpasar I Ketut Ngurah Aryawan ditemui di Denpasar, Kamis (21/3/2019).

    Pria yang juga caleg DPRD Kota Denpasar dapil Denpasar Barat 2, nomor urut 4 dari Partai Gerindra ini menegaskan masyarakat Bali berharap besar pada Presiden Jokowi agar mampu menghentikan polemik rencana reklamasi Teluk Benoa ini.

    Terlebih Gubernur Bali juga sudah menunjukkan sikap tegas menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Hal ini dibuktikan mengirimkan surat resmi kepada Presiden Jokowi terkait penolakan reklamasi ini pada tanggal 21 Desember 2018 dengan Nomor surat 523/1863/Sekret/Dislautkan perihal Usulan Perubahan Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2014.

    Dalam surat ini ada dua poin utama yang diminta Gubernur Koster. Pertama meminta Presiden merevisi Perpres No. 51 Tahun 2014. Khususnya yang berkaitan dengan Kawasan Perairan Teluk Benoa, di luar peruntukan fasilitas umum seperti pelabuhan, bandar udara dan jaringan jalan agar ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Maritim untuk perlindungan adat dan budaya maritim masyarakat Bali yang berdasarkan Tri Hita Karana.

    Kedua, Gubernur Koster juga meminta  Presiden memerintahkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk tidak menerbitkan ijin lingkungan (Amdal) bagi setiap orang yang mengajukan permohonan izin pelaksanaan reklamasi di Perairan Teluk Benoa di luar peruntukan fasilitas umum yang dibangun pemerintah. Sebab hal itu tidak selaras dengan adat dan budaya masyarakat Bali.

    “Sudah sangat jelas Gubernur dan rakyat Bali menolak reklamasi  Teluk Benoa. Lalu apa lagi yang ditunggu pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi? Jangan sampai rakyat marah dan kecewa karena aspiranya tidak digubris,” tegas Ngurah Aryawan.

    Tokoh muda yang juga Ketua Karang Taruna Kota Denpasar berharap momentum tatap muka Presiden Jokowi dengan sejumlah elemen dan tokoh masyarakat Bali (seperti Perbekel/Lurah, Bendesa adat, LPD, organisasi kepemudaan dan lainnya) Jumat ini bisa jadi kesempatan emas Gubernur Bali untuk meminta jawaban langsung dari Presiden.

    Kalau Presiden Jokowi sayang Bali, kata Ngurah Aryawan,  mestinya perintahkan para menterinya jangan keluarkan izin apapun terkait rencana reklamasi Teluk Benoa dan segera revisi Perpres 51/2014 sesuai permintaan resmi Gubernur Bali.

    “Jangan seperti ada drama dalam reklamasi Teluk Benoa ini. Rakyat ingin ketegasan dan kejelasan dari pemimpinnya,” tutup tokoh muda yang dikenal vokal dan juga sangat peduli lingkungan ini. (wid)

  • KSPN Nusa Penida “Indah di Atas Kertas”, Agus Putra Sumardana: Pemerintah Jangan “PHP”

    Tokoh muda Klungkung I Putu Agus Putra Sumardana yang juga caleg DPRD Bali dari Partai Hanura dapil Klungkung nomor urut 2 mengaku prihatin dan miris dengan tidak meratanya pembangunan infrastruktur di Nusa Penida. Ini juga berdampak pada tertinggalnya pembangunan pariwisata di kawasan yang dijuluki “telur emas Bali” ini.

    Pemerintah daerah hingga pusat dinilai belum serius membangun infrastruktur dan memajukan pariwisata di Kecamatan Nusa Penida yang punya ikon Tiga Nusa yakni Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan itu.

    Celakanya lagi status KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) yang disandang Nusa Penida sejak 2011 yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025  ibarat hanya “gelar palsu”.

    Atau bahkan “macan kertas” tidak berarti apa-apa di lapangan. Sebab faktanya hingga saat ini masih minim bahkan mendekati nihil pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di Nusa Penida yang dilakukan pemerintah pusat.

    Ibarat jatuh tertimpa tangga, tidak dapat perhatian pusat secara serius, Nusa Penida juga sejauh ini belum bisa dibantu banyak Pemerintah Kabupaten Klungkung hingga Pemerintah Provinsi Bali sekalipun.

    “Setelah bertahun-tahun ditetapkan, KSPN Nusa Penida ini apa hasilnya? Infrastruktur pariwisata apa yang sudah dibangun pemerintah pusat? Tidak banyak jika kita enggan katakan KSPN itu omong kosong. KSPN ini indah di atas kertas,” kritik Agus Putra Sumardana saat ditanya awak media, Rabu (13/3/2019).

    Jangankan bicara fasilitas dan kemajuan pariwisata, imbuh advokat muda ini, tiga infrastruktur dasar yakni jalan, air bersih dan listrik masih menjadi masalah serius dan klasik di wilayah Nusa Penida. Ketiganya seperti penyakit kronis yang sudah disembuhkan dan dicarikan jalan keluarnya.

    Faktanya memang warga masih harus menghadapi banyaknya jalan sempit, berlubang, belum teraspal yang juga sangat menggangu mobilitas dan roda perekonomian warga serta menghambat perkembangan pariwisata.

    Begitu juga soal air bersih yang masih sulit di didapatkan di beberapa wilayah. Kondisi diperparah dengan listrik yang sering “byar pet” alias “hidup mati hidup mati” yang juga mengganggu aktivitas perekonomian warga.

    Belum lagi bicara soal pelabuhan yang menghubungkan Klungkung daratan dengan Nusa Penida yang belum memadai. Rencana pembangunan Pelabuhan Segitiga Emas juga masih terkendala anggaran.

    “Minimnya tiga infrastruktur dasar ini apalagi infrastruktur dan fasilitas penunjang pariwisata membuat perkembangan pariwisata Nusa Penida juga mandeg alias jalan di tempat. Kesejahteraan masyarakat juga tertinggal dibandingkan daerah lain,” ujarnya.

    KSPN Harusnya Angin Segar, Jangan Gelar Semu

    Seharusnya status KSPN Nusa Penida yang ditetapkan sejak tahun 2011 sebagai salah satu dari 88 KSPN di Indonesia menjadi angin segar dan harapan baru untuk pengembangan pariwisata Nusa Penida serta mampu mengakselerasi pembangunan infrastruktur di kawasan ini. Tapi faktanya jauh panggang dari api.

    “Jadi kita pertanyakan lagi. Apa gunanya KSPN ini kalau pemerintah tidak serius bangun pariwisata Nusa Penida. Pemerintah jangan PHP (Pemberi Harapan Palsu), rakyat sudah bosan,” tegas pria asal Banjar Kaleran, Desa Bumbungan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung yang baru saja melepas masa lajang itu.

    Untuk itu ia meminta ada keseriusan pemerintah daerah hingga pusat untuk mewujudkan kemajuan pariwisata Nusa Penida sehingga KSPN ini tidak hanya gelar semu. Apalagi perencanaan untuk pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata sudah ditetapkan. Jadi harus segara ada eksekusi dan realisasi, jangan sebatas indah di atas kertas dan gelar semu.

    Seperti diketahui Pemkab Klungkung telah mengusulkan lima proyek ke pemerintah pusat untuk bisa terealsasi. Yakni jembatan baru penghubung Nusa Ceningan dan Lembongan, Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM), tanggul pengamanan pantai.

    Yang cukup strategis juga adalah jalan lingkar Nusa Penida yang diproyeksikan menelan dana hampir Rp 1 miliar. Kemudian pelabuhan segi tiga emas yang rencananya akan menghubungkan Pelabuhan Pesinggahan (Klungkung), Sampalan (Nusa Penida) dan Bias Munjul (Nusa Ceningan). Berdasarkan perencanaan, proyek ini setidaknya membutuhkan anggaran sekitar Rp 153 miliar.

    “Pak Bupati sudah ajukan proposal pendanaan ke pusat dan kita tunggu niat baik pemerintah pusat untuk Klungkung dan Bali pada umumnya,” tutup penasehat DPC Partai Hanura Kabupaten Klungkung itu. (dan)

  • Togar Situmorang “Siap Melayani Bukan Dilayani”, Ajak Anak Panti Asuhan Nonton Bareng “Aquaman”

    Caleg DPRD Bali dapil Denpasar nomor urut 7 dari partai Golkar Togar Situmorang, S.H., M.H., M.A.P., benar-benar mempunyai jiwa sosial tinggi dan kepedulian serius terhadap permasalahan sosial di Denpasar. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai advokat kawakan dengan puluhan klien tiap bulan, Togar masih menyempatkan diri untuk rutin berbagai kebahagiaan dengan para anak yatim piatu atau anak panti asuhan di Denpasar.

    Kali ini dilakukan dengan mengajak sebanyak 90 orang anak panti asuhan lintas agama di Bali untuk ikut nonton bareng film superhero yang sedang booming yakni “Aquaman”. Nonton bareng ini akan digelar di bioskop di Plaza Renon, Denpasar, Kamis (10/1/2019) mulai pukul 16.30 Wita.

    Togar Situmorang menuturkan, acara nonton bareng di bioskop ini merupakan salah satu bentuk komitmen dan keyakinan sebagai caleg maupun saat terpilih nanti sebagai anggota DPRD Bali. Yakni ia berkomitmen “Siap Melayani Bukan Dilayani” yang dilanjutkan dengan perjuangan “Anti Korupsi Anti Intoleransi”.

    Bagi Togar Situmorang, membahagiakan anak yatim piatu atau anak panti asuhan lintas agama walaupun dengan cara-cara sederhana merupakan suatu kepuasan tersendiri dan sudah menjadi kewajiban sebagai insan beragama.

    “Apa yang saya lakukan ini sesuai tagline saya. ‘Siap Melayani Bukan Dilayani’. Salah satu progam saya adalah ikut melayani anak yatim piatu lintas agama yang merupakan bagian masyarakat yang ada Bali khususnya di Denpasar,” terang Togar Situmorang.

    Kegiatan kepedulian yang melibatkan anak panti asuhan lintas agama ini juga sebagai bagian upaya Togar untuk terus menggemakan nilai-nilai toleransi di Pulau Dewata yang juga dikenal sebagai miniatur Indonesia dan pulau penuh cinta damai. Dimana beragam kalangan masyarakat dari berbagai agama, suku dan ras berbeda bisa hidup rukun, damai, menyama braya di Bali.

    “Kami ingin anak-anak panti asuhan ini dari kecil sudah mengenal pluralisme, menghargai toleransi dan bersama-sama menjaga kedamaian Bali,” ujar pria yang dikenal dermawan dan kerap memberikan bantuan hukum gratis bagi masyarakat kurang mampu dan tertindas dalam penegakan hukum itu.

    Sementara pemilihan film “Aquaman” dalam acara nonton bareng ini juga punya makna tersendiri dan ada pesan serta edukasi khusus yang ditanamkan Togar kepada anak-anak generasi penerus bangsa ini. Sebab film bertemakan superhero ini kental dengan nilai-nilai kepahlawanan, spirit nasional dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

    “Aquaman superhero dari air. Air itu suci, bersih, sumber kehidupan. Kami berharap anak-anak itu menjadi pahlawan yang bersih seperti Aquaman,” kata Togar Situmorang yang juga Ketua  Umum POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) Kota Denpasar itu.

    “Saya sebagai caleg dan nanti kalau saya jadi anggota Dewan, juga ingin menjadi wakil rakyat yang bersih seperti Aquaman, memperjuangkan kepentingan rakyat seutuhnya,” tegas Togar yang juga Ketua Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi Republik Indonesia (GNPK-RI) Provinsi Bali itu. .

    Togar juga ingin menyelipkan pesan bahwa air adalah salah satu elemen paling penting bagi kehidupan. Air juga menjadi sarana vital dan suci dalam ritual keagamaan berbagai agama.

    Misalnya pada umat Kristiani saat melakukan prosesi baptis terhadap seorang anak, air digunakan untuk sarana baptis yang menyimbolkan sang anak dibersihkan lahir batin dan untuk keselamatan.

    Kemudian saat menjelang ibadah Sholat bagi umat muslim, air juga digunakan untuk membersihkan diri secara lahir batin saat proses wudhu. Apalagi bagi umat Hindu, air digunakan sebagai tirta (air suci) dalam setiap prosesi persembahyangan atau upacara Yadnya

    “Jadi mari kita jaga sumber air kita di Bali dengan menjaga lingkungan. Misalnya jangan membuang sampah ke sungai. Dan juga jangan boros menggunakan air. Jangan sampai nanti kita krisis air,” tandas Togar Situmorang.

  • Dukung Pemerintah Tingkatkan Kesejahteraan Perangkat Desa, Togar Juga Siap Perjuangkan Beasiswa

    Dukung Pemerintah Tingkatkan Kesejahteraan Perangkat Desa, Togar Juga Siap Perjuangkan Beasiswa

    Mulai 2019 ini Presiden Jokowi memastikan bahwa gaji perangkat desa akan disetarakan dengan PNS golongan IIA dan tentunya juga dengan memperhatikan masa kerja. Kebijakan ini menjadi angin segar dan direspon positif  perangkat desa di tanah air

    Menurut pemerhati kebijakan publik yang juga advokat kawakan, Togar Situmorang, S.H., M.H., M.A.P., setelah adanya peningkatan kucuran dana desa, kebijakan Presiden Jokowi dalam menyejahterakan perangkat desa ini sangat tepat.

    “Sangat bagus Presiden Jokowi memperhatikan perangkat desa dengan menaikkan gajinya setara PNS golongan IIA. Mereka yang sudah bekerja mengabdi untuk desa layak diapresiasi,” kata Togar Situmorang, Rabu (30/1/2019).

    Menurut pria yang juga caleg DPRD Bali dapil Denpasar nomor urut 7 dari partai Golkar itu, peningkatan gaji ini diyakini akan lebih meningkat kualitas pelayanan publik di desa yang akan berimbas pada percepatan kemajuan desa itu sendiri.

    “Ini bisa tingkatkan motivasi kerja mereka. Tidak ada lagi perangkat desa yang malas bekerja,” ujar advokat nyentrik tapi dermawan itu.

    Advokat yang dijuluki “panglima hukum” ini menambahkan, keberpihakan pada peningkatan kesejahteraan maupun kualitas SDM perangkat desa juga harus ditunjukkan pemerintah daerah baik Pemerintah Provinsi Bali maupun Pemerintah Kabupaten/Kota di Bali.

    Untuk itulah ketika terpilih sebagai anggota DPRD Bali nanti, Togar Situmorang juga ingin memperjuangkan agar ada semacam beasiswa untuk pendidikan dan pelatihan bagi perangkat desa. Minimal mereka mengenyam pendidikan setara S-1.

    Sebab, kata Togar, di daerah khususnya di luar Denpasar dan Badung masih banyak ditemukan perangkat desa yang hanya tamatan SMA/SMK bahkan ada yang SMP. Namun mereka punya masa kerja dan pengabdian yang cukup lama.

    Jadi kualitas SDM mereka perlu ditingkatkan baik melalui jalur pelatihan singkat maupun pendidikan formal setara S-1. “Saya akan suarakan dan perjuangkan agar seluruh perangkat desa minimal pendidikannya bisa sarjana. Bisa nanti beasiswa dari Pemprov Bali dan sinergi juga dengan Pemkab/Pemkot,” ungkap Togar.

    Di sisi lain, pria yang tengah menyelesaikan disertasi doktor pada Program S-3 Ilmu Hukum Universitas Udayana itu juga berharap para perangkat desa dan pimpinan desa terus meningkat kreativitas dan inovasi dalam mengelola desa.

    Khususnya dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan membangun potensi ekonomi berbasis desa. Dana desa juga diharapkan dapat dimanfaatkan dengan maksimal tidak hanya untuk membangun infrastruktur tapi juga kemandirian ekonomi dan peningkatan SDM sebagaimana arahan Presiden Jokowi.

    “Desa harus jadi ujung tombak pembangunan dan perekonomian. Agar ke depan urbanisasi dan orang yang mencari kerja ke kota bisa berkurang,” tandas caleg milenial yang mengidolakan Jokowi dua periode itu. (wid)

  • Togar Situmorang Berbagi Kasih Sayang Lewat “Valentine Giveaway”

    Hari kasih sayang atau hari valentine yang jatuh pada Kamis 14 Februari 2019 ini mempunyai makna tersendiri bagi advokat senior yang dijuluki “panglima hukum” Togar Situmorang, S.H., M.H., M.A.P., yang juga caleg DPRD Bali dapil Denpasar nomor urut 7 dari partai Golkar.

    Bagi Togar kasih di hari valentine tidak hanya ditunjukkan bagi pasangan atau couple tapi yang penting juga adalah berbagai kasih sayang dengan sesama, bahkan bisa juga dengan orang yang tidak dikenal sekalipun.

    Untuk itu Togar dalam kesempatan valentine ini memberikan “Valentine Giveaway”  bagi orang-orang yang menunjukkan kasih sayang penuh kepada pasangan maupun anggota keluarganya seperti adik kakak maupun kepada sesama. “Valentine Giveaway” ini digelar di Colony, Plaza Renon, Kamis (14/2/2019).

    Ada sejumlah pasangan yang beruntung baik pasangan kekasih maupun adik kakak dan sahabat. Seperti sepasang kekasih Awang Prayoga dan Ni Kadek Intan Yunita Dewi serta sepasang adik kakak yakni Shania dan Ivone.

    Mereka dan sejumlah pasangan lainnya bersama Togar Situmorang menikmati malam valentine penuh kebersamaan dan tentunya penuh kasih sayang.

    “Valentine tidak hanya kasih sayang kepada pasangan, tapi kepada adik kakak, kepada sahabat. Kepada binatang pun harus kita tunjukkan kasih sayang. Semua makhluk hidup wajib kita sayangi,” kata Togar yang dikenal sebagai caleg milenial dengan komitmen “Siap Melayani, Bukan Dilayani” itu.

    Pria yang juga Ketua Umum POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) Kota Denpasar itu mengaku sangat bahagia dalam momen perayaan valentine ini. “Kita jalin kebersamaan dengan Valentine Giveaway. Kita pilih beberapa couple yang menunjukkan kasih tulus. Salah satunya kami ajak adik dan kakak, mereka tidak pernah terpisahkan, saling dukung dan sayang satu sama lain,” ungkap Togar.

    Tapi baginya berbagi kasih sayang bukan hanya hari valentine ini tapi harusnya tiap hari. “Harapannya valentine ke depan tidak cukup tanggal 14 tapi harus tiap hari. Tapi kami harapkan valentine ini pengingat bagi kita semuanya untuk lebih menyayangi satu sama lain,” tandas pria yang belum lama ini juga berbagi kasih sayang dengan anak panti asuhan lintas agama lewat nonton bareng film superhero Aquaman.

    Sepasang kekasih muda Awang dan Intan memaknai kasih sayang bukan hanya pada peringatan hari valentine saja. Namun tiap hari juga harusnya diisi dengan kasih sayang.

    “Kalau kasih sayang harus  setiap hari. Tapi kalau valentine kan ada peringatannya, ada momen keluar bersama pasangan untuk quality time,” ungkap Awang yang bekerja di salah satu restoran di Denpasar ini.

    Bagi Intan juga tidak harus memberikan barang-barang yang spesial di hari kasih sayang ini. Cukup dengan perhatian dan kasih sayang itu sendiri. “Yang paling penting juga adalah setia kepada pasangan kita,” imbuh anak milenial asal Buleleng itu.

    Kedua pasangan ini pun berharap kepada seluruh pasangan di Indonesia semoga di hari valentine ini hubungannya langgeng. “Bagi yang masih pacaran dan sudah serius semoga cepat menikah,” harap Intan dan Awang.

    Sementara itu sepasang adik kakak yakni Shania (10 tahun) dan Ivone (16 tahun) juga mengaku senang merayakan valentine kali ini. Adik kakak yang tidak terpisahkan dan saling menyayangi ini pun saling berbagi coklat di hari kasih sayang ini.

    “Saya sangat sayang dengan kakak Ivone. Kalau terlambat pulang, pasti saya telpon terus, ” kata Shania yang kini duduk di kelas V SD Ami Denpasar itu.

    “Saya juga sangat sayang dengan adik Shania. Saya senang ngobrol dan curhat tentang sekolah” kata Ivone yang kini duduk di kelas XI SMA N 2 Denpasar.

    “Di hari valentine ini, semog papa mama makin sukses dan happy,” harap kedua anak manis dan imut ini.

  • Peringati Valentine, “Panglima Hukum” Togar Situmorang Ajak Doakan Kesembuhan bagi Ibu Ani Yudhoyono

    Advokat senior yang dijuluki “panglima hukum” Togar Situmorang, S.H., M.H., M.A.P., mengaku prihatin dengan kondisi istri presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ibu Negara Ibu Ani Yudhoyono yang kini tengah menjalani pengobatan dan perawatan intensif di National Universtiy Hospital Singapura akibat mengidap penyakit kanker darah.

    Di sela-sela berbagi kasih sayang memperingati hari valentine dalam kemasan acara “Valentine Giveaway” di Colony Creative Hub, Plaza Renon, Denpasar, Kamis (14/2/2019), secara spontan Togar  Situmorang mengajak orang-orang yang hadir untuk ikut mendoakan kesembuhan dan kesehatan bagi Ibu Ani Yudhoyono.

    “Semoga Ibu Ani Yudhoyoni dapat sembuh dan sehat kembali. Begitu juga dokter yang merawat beliau di Singapura agar dapat memberikan pelayanan terbaik,”  ucap Togar dalam doa bersama secara spontan ini.

    Pria yang juga caleg DPRD Bali dapil Denpasar nomor urut 7 dari partai Golkar juga berharap dan berdoa agar SBY beserta keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi situasi ini.

    Seperti diketahui, Ani Yudhoyono saat ini berada di National Universtiy Hospital Singapura untuk menjalani pengobatan dan perawatan yang intensif akibat penyakit kanker darah yang dideritanya. Penyakit Ani Yudhoyono diumumkan langsung oleh suaminya, SBY.

    “Dengan rasa prihatin, saya sampaikan kepada para sahabat di Tanah Air, Ibu Ani mengalami blood cancer atau kanker darah. Dan karenanya harus menjalani pengobatan dan perawatan yang intensif di National Universtiy Hospital Singapura,” kata SBY lewat video dari Singapura, Rabu (13/2/2019).

    Togar pun menilai sosok Ani Yudhoyono merupakan sosok yang bersahaja baik saat sebagai Ibu Negara mendampingi Presiden SBY yang menjabat dua periode yakni periode 2004-2009 dan periode 2009-2014. Maupun juga sebagai saat mendampingi SBY selaku Ketua Umum Partai Demokrat sehingga Ani Yudhoyono juga dianggap sebagai ibunya kader Demokrat.

    “Dalam menjalani bahtera rumah tangga Ibu Ani Yudhoyono dan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono juga sangat mesra, tidak terpisahkan satu dengan lainnya,” kata Togar.

    Maka bagi Togar keberadaan Ani Yudhoyono yang selalu mendukung SBY ibarat pepatah “di balik kesuksesan seorang pria selalu ada perempuan hebat di belakangnya.”

    “Seperti itulah sosok Ibu Ani Yudhoyono yang juga menginspirasi kita semua,” imbuh advokat yang dikenal kerap memberikan bantuan hukum gratis bagi masyarakat kurang mampu dan tertindas dalam penegakan hukum itu.

    Ini Makna Valentine bagi Togar Situmorang

    Di sisi lain, hari kasih sayang atau hari valentine yang jatuh pada Kamis 14 Februari 2019 ini mempunyai makna tersendiri Togar Situmorang. Menurutnya kasih sayang di hari valentine tidak hanya ditunjukkan bagi pasangan atau couple tapi yang penting juga adalah berbagai kasih sayang dengan sesama, bahkan bisa juga dengan orang yang tidak dikenal sekalipun.

    Untuk itu Togar dalam kesempatan valentine ini memberikan “Valentine Giveaway”  bagi orang-orang yang menunjukkan kasih sayang penuh kepada pasangan maupun anggota keluarganya seperti adik kakak maupun kepada sesama.

    Ada sejumlah pasangan yang beruntung baik pasangan kekasih maupun adik kakak dan sahabat. Seperti sepasang kekasih Awang Prayoga dan Ni Kadek Intan Yunita Dewi serta sepasang adik kakak yakni Shania (10 tahun)  dan Ivone (16 tahun).

    Mereka dan sejumlah pasangan lainnya bersama Togar Situmorang menikmati malam valentine penuh kebersamaan dan tentunya penuh kasih sayang.

    “Valentine tidak hanya kasih sayang kepada pasangan, tapi kepada adik kakak, kepada sahabat. Kepada binatang pun harus kita tunjukkan kasih sayang. Semua makhluk hidup wajib kita sayangi,” kata Togar yang dikenal sebagai caleg milenial dengan komitmen “Siap Melayani, Bukan Dilayani” itu.

    Pria yang juga Ketua Umum POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) Kota Denpasar itu mengaku sangat bahagia dalam momen perayaan valentine ini.

    “Kita jalin kebersamaan dengan Valentine Giveaway. Kita pilih beberapa couple yang menunjukkan kasih tulus. Salah satunya kami ajak adik dan kakak, mereka tidak pernah terpisahkan, saling dukung dan sayang satu sama lain,” ungkap Togar.

    Tapi baginya berbagi kasih sayang bukan hanya hari valentine setiap tanggal 14 Februari ini tapi harusnya tiap hari. “Sejatinya valentine ini pengingat bagi kita semuanya untuk lebih menyayangi satu sama lain,” tandas pria yang belum lama ini juga berbagi kasih sayang dengan anak panti asuhan lintas agama lewat nonton bareng film superhero Aquaman. (wid)

  • Nyepi Sehari di Tahun Politik, Togar Situmorang Ajak Introspeksi Diri, Tingkatkan Toleransi dan Manyama Braya

    Nyepi Sehari di Tahun Politik, Togar Situmorang Ajak Introspeksi Diri, Tingkatkan Toleransi dan Manyama Braya

    Tokoh anti korupsi dan anti intoleransi yang juga advokat senior Togar Situmorang, S.H., M.H., M.A.P., mengajak segenap elemen masyarakat Bali termasuk juga khususnya para elit politik untuk memaknai perayaan Nyepi Tahun Saka 1941 pada 7 Maret 2019 dengan introspeksi diri, meningkatkan toleransi dan spirit manyama braya.

    “Kita tahu di tahun politik ini situasinya menghangat bahkan bisa memanas. Tapi hati dan pikiran kita harus tetap dingin dan perayaan Nyepi ini jadi momentum untuk meredam gejolak dinamika situasi politik yang ada dengan
    introspeksi diri, tingkatkan toleransi dan manyama braya,” kata Togar Situmorang ditemui di kantor hukumnya, Law Firm Togar Situmorang & Associates di Denpasar, Senin (4/3/2019).

    Pria yang dijuluki “panglima hukum” yang juga caleg DPRD Bali dapil Denpasar nomor urut 7 dari partai Golkar ini mengajak nilai-nilai toleransi, kedamaian dan semangat gotong royong serta manyama braya masyarakat Bali jangan sampai tercabik-cabik karena perbedaan pilihan politik.

    Begitu juga para elit politik harusnya mampu menjadi panutan dan penuntut jalan serta memberikan pencerahan pada masyarakat untuk selalu hidup rukun berdampingan tanpa memandang perbedaan pilihan politik yang ada.

    Caleg milenial yang dikenal dengan komitmen dan aksi nyata “Siap Melayani Bukan Dilayani” itu juga berharap Catur Brata Penyepian dapat dijalankan dengan baik dan semua pihak ikut menjadi keheningan dan ketenangan Nyepi. Sehingga perayaan Nyepi di Bali benar-benar bisa jadi contoh bagi masyarakat Indonesia dan dunia.

    “Bali itu miniatur Indonesia dan dunia dan dikenal sebagai island of peace, island of tolerance. Ini yang membuat Bali nyaman layaknya surga bagi setia orang. Ini yang harus kita jaga dan pertahankan bersama-sama,” ajak Togar Situmorang yang sudah puluhan tahun di Bali dan mengaku sangat cinta Bali.

    Ketua Umum POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) Kota Denpasar itu juga mengapresiasi kreativitas generasi muda dalam menciptakan ogoh-ogoh yang selalu menjadi daya tarik tersendiri saat diarak pada hari Pangrupukan (sehari jelang Nyepi). Pelestarian ogoh-ogoh ini terus berkembang namun tetap sesuai jati diri budaya Bali.

    Togar pun terus mendukung kreativitas generasi muda Sekaa Teruna Teruni (STT) di Denpasar dalam mengkreasikan ogoh-ogoh baik dari sisi estetika tampilan maupun juga ketertiban saat pengarakannya di hari Pangrupukan.

    Namun Dewan Pakar Forum Bela Negara ini tetap berharap pengarakan ogoh-ogoh tahun ini jangan sampai melenceng dari identitas budaya Bali. Misalnya jangan sampai lagi menggunakan mercon atau sound system yang misalnya juga dengan memutar musik dangdut.

    “Sesuai imbauan Pak Walikota, jangan ada lagi ogoh-ogoh gunakan sound system. Gunakan saja gamelan baleganjur, kentungan, tektekan atau pakai obor sehingga tetap menunjukkan identitas adat budaya Bali,” harap pria yang tengah menyelesaikan pendidikan Doktor (S-3) Ilmu Hukum di Universitas Udayana itu.

    Togar juga berharap jangan sampai ada ogoh-ogoh berwarna politik atau disusupi kepentingan kepentingan politik. Misalnya jangan sampai saat diarak ada atribut  ogoh-ogoh menyerupai salah satu simbol partai politik atau caleg tertentu. Ataupun ada STT yang menggunakan atribut terkait caleg ataupun parpol seperti dalam bentuk kaos, bendera atau lainnya.

    “Rangkaian hari raya Nyepi harus benar-benar steril dari kepentingan politik. Jadi mari kita Nyepi sehari bebaskan diri dari hasrat atau kepentingan politik apapun menuju Bali yang shanti, damai lahir batin,” tutup Togar. (wbp)

  • Waspada Karma Pala Politik, Togar Situmorang: Caleg Permainkan Bansos Pura Bisa “Tenggelam” hingga “Kena Kutuk”

    Waspada Karma Pala Politik, Togar Situmorang: Caleg Permainkan Bansos Pura Bisa “Tenggelam” hingga “Kena Kutuk”

    Denpasar (Panglimahukum.com)-

    Advokat senior yang dijuluki “panglima hukum” Togar Situmorang S.H.,M.H., M.A.P., mengaku miris jika ada oknum anggota DPRD yang juga caleg petahana sampai berani-beraninya mempermainkan dan menyalahgunakan dana bansos untuk pembangunan pura.

    Baginya hal itu bukan hanya melanggar hukum dan menjadi ajang korupsi tapi juga bentuk pengingkaran pada keyakinan umat Hindu bahwa pura itu tempat suci, sakral yang wajib dijunjung tinggi kesuciannya jangan dinodai dengan prilaku kotor para koruptor.

    “Umat Hindu dan masyarakat Bali mengenal adanya karma pala. Dan saya yakin dalam politik karma pala itu bisa berlaku sengat cepat. Jadi caleg yang permainkan dana bansos pura bisa tenggelam tidak dipilih lagi bahkan bisa kena kutuk,” kata Togar Situmorang ditemui di kantor hukumnya Law Firm Togar Situmorang & Associates, Denpasar, Rabu (13/3/2019).

    Pria yang juga caleg pendatang baru di DPRD Bali dapil Denpasar nomor urut 7 dari Partai Golkar ini menegaskan di tahun politik ini penyaluran dana bansos memang rawan disalahgunakan atau diselewengkan untuk kepentingan politik pribadi caleg petahana.

    Modusnya pun beragam bisa misalnya dengan penyaluran dana bansos yang difasilitasi caleg petahana untuk masyarakat jumlahnya dipotong alias disunat sekian persen. Contohnya dana yang cair dari pemerintah 200 juta tapi bisa saja sekian persen bahkan setengahnya diminta kembali oleh oknum anggota sebagai semacam succes fee yang uangnya bisa digunakan untuk kepentingan pribadi maupun kampanye pencalegan.

    Modus lainnya bisa saja pemerintah dikibuli dengan adanya bansos fiktif dimana bangunan pura yang diajukan dalam proposal berbeda dengan fakta di lapangan. Misalnya saat proposal diajukan disebutkan pura A di suatu lokasi tapi saat verifikasi tim dinas terkait ke lapangan malah ditunjukkan pura lain yang sebelumnya memang sudah ada. Jadi tidak ada pembangunan pura baru.

    “Jadi penyimpanan dana bansos seperti itu membuka celah korupsi bagi oknum anggota legislatif yang memfasilitasi bansos itu,” tegas Togar Situmorang yang kini tengah menyelesaikan pendidikan Doktor (S-3) Ilmu Hukum Universitas Udayana.

    Dukung Penegak Hukum Usut Bansos Pura di Klungkung

    Di sisi lain tokoh anti korupsi dan anti intoleransi ini juga mendorong aparat penegak hukum menindaklanjut laporan yang dilayangkan perwakilan masyarakat Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Wayan Muka Udiana ke sejumlah lembaga penegak hukum di Bali terkait dugaan penyalahgunaan dana hibah bansos pembangunan pura di Nusa Penida yang difasilitasi Ketua DPRD Klungkung Wayan Baru.

    Terlebih setelah ramai dan viralnya pemberitaan dugaaan penyalahgunaan bansos oleh orang nomor satu di legislatif Klungkung ini, warga penerima bansos ramai-ramai mengembalikan dana bansos ini ke Badan Pengelola Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kabupaten Klungkung seperti terlihat Senin (11/3/2019).

    Togar menilai tentu hal ini mengindikasikan ada fakta kuat dan bukti ketidakberesan dan kejanggalan bahkan penyimpangan dalam penyaluran dana hibah yang difasilitasi Ketua DPRD Klungkung ini.

    “Kalau ada pengembalian kan berarti ada apa-apanya. Seperti orang yang terduga atau ketahuan korupsi mengembalikan uang ke pemerintah dengan harapan tidak dihukum. Tapi proses hukum pidananya kan harus tetap berjalan,” tegas pria yang dikenal sebagai advokat dan banyak memberikan bantuan hukum gratis bagi masyarakat kurang mampu dan tertindas dalam penegakan hukum.

    Di sisi lain Togar juga menyoroti menjelang Pileg 2019, jatah fasilitasi bansos kepada masyarakat konstituennya kerap menjadi salah satu bargaining politik anggota legislatif petahana. Dengan iming-iming bansos, caleg petahana berharap dapat mengamankan suara di daerah pemilihan (dapil) masing-masing.

    Celakanya lagi, selama ini terkesan dana bansos ini hanya menjadi alat politik anggota Dewan. Penyalurannya ke masyarakat pun tergantung kemauan anggota Dewan. “Hibah bansos sering hanya diberikan kepada orang dekat. Siapa yang disukai itu yang dikasi.

    “Jadi sangat subjektif dan diskriminatif dengan kriteria yang sumir. Maka penyaluran dana bansos ini membuka juga ruang KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) di lingkaran anggota legislatif,” tegas Togar Situmorang. (wid)